Sabtu, 31 Desember 2016

Jantung Sehat Dengan Kunyah Daun Pepaya


Daun papaya tidak hanya bisa dimakan ketika dimasak menjadi sayur. Tetapi, mengunyah daun papaya mentah yang terasa pahit juga bisa menjaga kesehatan jantung. Mungkin Anda terkejut jika mengetahui manfaat terbaik dari daun papaya. Ya, selain menyehatkan pencernaan, daun papaya ternyata dapat mencegah Anda terkena penyakit jantung, wow!
Seperti apa penjelasan lengkapnya? Berikut manfaat daun papaya untuk mencegah penyakit jantung seperti dilansir Bewellbuzz.

Daun papaya mengurangi risiko penyakit jantung.
Kadar koleterol yang tinggi dalam darah merupakan faktor risiko terbesar untuk penyakit jantung. Cara paling aman untuk mengurangi risiko penyakit jantung menurut para ahli kesehatan adalah makan makanan seperti daun papaya. Karena, mengonsumsi daun papaya dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Daun papaya mentah ukuran sedang (300 gm) mengandung 188mg vitamin C, yang sangat efektif mencegah pengendapan kolesterol dalam plak arteri. Meningkatkan asupan vitamian C dapat mencegah pembentukan plak di arteri, yang pada akhirnya secara signifikan mengurangi risiko penyakit jantung.

Daun papaya membantu pengobatan hipertensi
Seseorang yang memiliki penyakit hipetensi harus meningkatkan asupan kalium. Karena, asupan ini sangat membantu mengontrol tekanan darah. Menurut American Heart Association (AHA), kita perlu mengonsumsi 4.700 mg potasium setiap hari untuk mengontrol tekanan darah.
Daun papaya sangat kaya akan kalium dan membantu kita memenuhi kebutuhan kalium harian. Daun papaya ukuran sedang (300 gm) mengandung 781 mg kalium, atau 16 persen dari kebutuhan harian kalium kita.
Jadi, makan daun papaya setiap hari dapat membantu menjaga tekanan darah dalam kisaran normal. Dengan begitu, makan daun papaya akan mengurangi risiko hipertensi dan penyakit jantung.

Mensehatkan pencernaan
Sementara itu, ada manfaat tambahan dari daun papaya selain dari mencegah penyakit jantung, yaitu mensehatkan pencernaan. Papaya mengandung papain, para ahli percaya enzim ini membantu mensehatkan pencernaan.
Papaya mentah memiliki jumlah papain 3 kali lipat lebih tinggi dari papaya matang, sehingga lebih cocok untuk mengatasi masalah pencernaan. Selain itu, daun papaya juga mengandung senyawa kimia tertentu yang dapat menghentikan mikroorganisme, dimana dapat berdampak buruk terhadap pencernaan.
Selain daunnya, buah papaya sendiri sarat dengan  nutrisi penting, seperti serat, folat, potasium dan vitamin C, K, A dan E. Jadi, jika ingin menjalankan diet seimbang, Anda harus menambahkan papaya ke dalam diet harian.

Sumber tulisan : Radar Banjarmasin, edisi 25 September 2016

Rabu, 28 Desember 2016

Meningitis Bisa Sebabkan Lumpuh, Tuli Hingga Kematian



Vaksinasi meningitis diwajibkan bagi calon Jemaah haji yang akan beribadah ke tanah suci. Kementrian Kesehatan menyebut vaksinasi wajib dilakukan karena penyakit ini sangat berbahaya.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementrian Kesehatan, dr.Muchtaruddin Mansyur, MS, SpKO, mengatakan bahwa meningitis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan. Jika sembuh pun, pasien biasanya tidak bisa sembuh total.
“Karena yang diserang selaput otak. Meningitis itu kan radang selaput otak. Sehingga kalau sembuh pun saraf sudah terganggu, bisa menyebabkan entah lumpuh, entah tuli, entah bisu. Kalau tidak sembuh bahkan bisa meninggal dunia,” tutur dr.Muchtar, dalam perbincangan dengan detik Health, Jum’at (12/8/2016).
Situs WebMD menyebut meningitis sejatinya tergolong penyakit yang jarang ditemui. Penyebabnya sendiri beragam, ada yang terkena virus, bakteri, parasit dan jamur. Meningitis akibat jamur tergolong langka karena biasanya jamur hanya hidup dipermukaan kulit dan tak sampai masuk ke dalam aliran darah.
Sementara meningitis akibat virus biasanya memiliki gejala mirip flu dan tidak berakibat fatal. Dengan pengobatan dokter, meningitis akibat virus bisa sembuh total dalam waktu 2 minggu. Namun pada sebagian kecil kasus virus enterovirus dan herpes, virus masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah dan menetap di meniges atau selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang.
Meningitis yang paling berbahaya adalah yang disebabkan oleh bakteri. Beberapa bakteri yang rentan menyebabkan meningitis adalah Neisseria meningitides, Streptococcus pneumonia dan Listeria monocytogenes. Jika sudah menetap di megines dan menyebabkan peradangan, resiko gangguan saraf pun meningkat pesat.
Terakhir adalah mengitis akibat parasit. Seperti diketahui, parasit atau amoeba bila masuk ke dalam tubuh dan menjalar ke otak bisa sangat mematikan. Salah satu contohnya adalah Naegieria fowleri, amoeba pemakan otak yang biasanya hidup di perairan air tawar.
Diberitakan sebelumnya dr.Sheila Agustini, SpS dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menyebut faktor resiko mengitis ada empat. Pertama usia yang telalu muda atau tua (bayi dan lansia), infeksi diteling, hidung, tenggorokan dan paru-paru), daya tahan tubuh dan paparan asap rokok.
Ia bahkan menyebut hampir 50 persen pasien meningitis akan meninggal dunia, terutama dari kelompok banyi dan lansia. Apalagi jika didiagnosis dengan derajat sedang atau besar.

Sumber tulisan : Radar Banjarmasin, edisi 14 Agustus 2016

Sabtu, 24 Desember 2016

Fakta Di Balik Kelezatan Daging



Kelebihan asupan protein daging merusak DNA sel; sel onkogen berubah sifat menjadi sel kanker. Kerja hati dan ginjal juga meningkat bila asupan daging berlebih, selain darah berubah lebih bersifat asam. Karena tubuh lebih asam, membutuhkan lebih banyak kalsium untuk menetralkannya. Banyak makan daging tanpa kecukupan asupan kalsium, tulang jadi keropos (osteoporosis).
Asam amino pembentuk protein daging tidak semua terserap oleh tubuh karena untuk memecahnya memerlukan lebih beragam enzim. Kekurangan enzim menurangi kemampuan menerima protein. Akibat tak dicerna sempurna, protein membususk di usus menjadi “racun” (indole, H2S, nitrosamine, histamine, radikal bebas). Selain itu, tubuh butuh kalori lebih besar untuk mengolah sisa cerna daging yang tidak sempurna, lalu menyisakan lebih banyak radikal bebas. Kita tahu kini radikal bebas jadi musuh utama orang sekarang. Membanjirnya radikal bebas dalam tubuh ikut mencetuskan munculnya semua penyakit degenerative, selain kanker.
Dilaporkan pula usus orang Amerika yang tinggi konsumsi dagingnya tidak sebersih usus orang Okinawa, nelayan disebuah pulau kecil di Jepang, yang pola makannya lebih banyak sumber nabati ketimbang hewani. Terungkap pula penyakit usus diverculitis selain kanker usus besar, ternyata banyak menimpa penyuka daging. Kita perlu belajar sehat dari orang Okinawa yang umurnya seratusan tahun (centenarian) karena kebiasaan makan yang bersesuaian dengan yang tubuh manusia butuhkan (studi Harvard selama 25 tahun di masyarakat Okinawa). Sebaliknya, terungkap bahwa pola makan pengidap kanker terbukti lebih banyak porsi daging.
Studi di Tiongkok menambah bukti : asupan daging berlebih mencetuskan kejadian kanker. Kita tahu orang Tiongkok secara genetic bersifat homogeny. Jadi, kalau ada provinsi di Tiongkok yang angka kankernya lebih tinggi, bukan faktor gen penyebabnya. Belakangan terungkap, propinsi yang angka kankernya paling tinggi ternyata paling banyak porsi makan dagingnya (The Chin Study, T Colin Campbell).
Gigi manusia sudah menunjukkan kalau asal nutrisi yang tubuh butuhkan lebih nabati ketimbang hewani. Jumlah dan susunan gigi-geligi simpanse sama persis dengan manusia. Kalau sinpanse tidak ada yang terserang jantung, atau stroke, itu barangkali lantaran simpanse tidak makan bistik. Simpanse lebih 95 persen mengonsumsi nabati, hanya 5 persen mengonsumsi daging dari serangga atau tikus. Menu orang Okinawa terbilang menu tersehat di dunia karena lebih banyak memilih ubi ketimbang donat.
Selain angka kanker orang Okinawa terendah di dunia, pembuluh darahnya juga tergolong paling bersih tanpa penyumbat karak lemak atherosclerosis. Hal lain, kadar homocysteine orang Okinawa rendah, bahkan terendah di dunia. Homocysteine produk ikutan metabolisme protein daging. Penyakit pembuluh darah yang berujung serangan jantung dan stroke, homocysteine jadi salah satu faktor pemburuknya. Pola makan ke-“barat-barat”-an dilaporkan meningkatkan homocysteine darah.
Garis tangan kesehatan manusia sudah menunjukkan kalau kita bukanlah harimau (animal-based diet), melainkan lebih sebagai kera dan kambing yang pemakan tumbuhan (plant-based diet). Kultur yang menciptakan bistik, lapis legit, dan sosis, menu yang betul enak di lidah, tetapi buruk di badan. Organisasi Kesehatan Dunia tahun lalu mengingatkan agar menjauhi semua daging olahan karena tinggi kandungan pencetus kanker (karsinogen). Di antaranya nitrit dan nitrosamine pada sosis dan bacon. Pencetus kanker dioxin sebagai limbah bakaran sudah mencemari daging olahan yang kita konsumsi.
Yang dibutuhkan tubuh itu nasi sepiring, sepotong tempe-tahu, ikan pepes, sayur. Menu sejenis itu yang memenuhi kecukupan tiga perlima zat pati, seperempat protein, dan selebihnya lemak secara berimbang (balance diet). Komposisi menu seperti itu yang bersesuaian dengan yang diminta tubuh.
Timbul pertanyaan, haruskan berhenti makan daging? Jawabannya tentu tidak. Namun daging dalam bistik sudah melebihi asupan protein tubuh karena sudah memadai dipenuhi hanya dengan seperempat total kebutuhan kalori dalam sehari. Lapis legit memasukkan ke tubuh lebih banyak lemak selain protein telur dan kolesterol mentega. Sosis memasukkan zat kimiawi tambahan (food additive) yang tak menyehatkan. Sejatinya tubuh butuh lebih banyak sayur-mayur dan buah, selain umbi-umbian, kacang-kacangan, dan biji-bijian, seperti lazim isi meja makan nenek kita dulu.
Tentu tak cukup hanya tempe-tahu, tubuh kita tetap butuh protein hewani selain dari protein nabati. Namun, tak perlu menelannya berlebihan, cukuplah dari sekerat daging, dan tak pelu sebesar potongan bistik. Sesungguhnya ikan sebagai sumber protein hewani harus lebih dipilih dibandingkan daging karena lemak tak jenuh ikan (unsurated fatty acid) lebih menyehatkan dibandingkan lemak jenuh daging (saturated fatty acid). Kalau daging sedang sukar didapat dan harganya makin tidak terjangkau, maengapa kita tidak menukarnya dengan ikan, yang selain lebih murah juga lebih menyehatkan?


*Ditulis oleh : Pribakti B (dokter RSUD Ulin Banjarmasin)

Sumber tulisan : Media Kalimantan, 19 September 2016